Pages

Rabu, 28 Januari 2015

MENDESKRIPSIKAN SESUATU

Deskripsi yang berhasil mensyaratkan cukup rerinci yang spesifik. Langkah yang paling mudah untuk menyusun detail adalah dengan menggunakan lima indera kita. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dansentuhan.
Berikut ini saya ingin berbagi tiga langkah mudah untuk mendeskripsikan tempat. Tapi kuncinya adalah banyak membaca dan latihan menulis.
1. Gunakan kata benda nama diri (proper nouns).
Disamping memakai rerinci yang konkrit dan kata kiasan, dalam mengarang, kita juga bisa memasukkan kata benda nama diri. Yakni nama-nama orang-orang khusus, tempat dan benda-benda tertentu. Misalnya: Jokowi, Gunung Pangrango, Intitut Pertanian Bogor, Jalan Pajajaran, Commuter Line, majalah National Geographic, blog Kompasiana.
Memasukkan kata benda nama diri dimana audiens (pembaca) mengenali dengan mudah dapat membuat apa yang kamu deskripsikan lebih familiar untuk mereka. Perhatikan bagaimana J.K. Rowling dalam novel terbarunya “The Casual Vacancy” mendeskripsikan kota Pagford.
…Sebuah kota kecil yang indah tempat mereka tinggal hampir setengah usia perkawinan mereka. Mereka melewati Church Row, jalan menanjak tempat rumah-rumah paling mahal di kota itu berada. Rumah-rumah besar yang berdiri dengan segala kemegahan dan kekokohan zaman Victoria. Berbelok di tikungan dekat gereja bergaya Gotik tiruan, tempat dia pernah menyaksikan putri kembarnya menampilkan drama Joseph and The Amazing Technicolor Dreamcoat. Melintasi Alun-Alun yang memperlihatkan pemandangan reruntuhan biara tua yang mendominasi cakrawala kota. Reruntuhan itu terletak tinggi di bukit, seakan menyatu dengan langit jingga. (The Casual Vacancy, J.K. Rowling)
Dan kita lihat bagaimana Dee memperlihatkan kata benda nama diri yang sangat familiar dengan di sini.
Kami tinggal di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung kecil bernama Batu Luhur. Meski sudah ditawari sebuah rumah dosen di dekat kampus IPB tempatnya mengajar, Ayah tetap memilih tetap tinggal di rumah lama kami, dimana  ia masih bias bersepeda ke Batu Luhur. Di kampung itu kami diperlakukan bak raja. (Supernova 4: Partikel, Dee)
2. Gunakan kata kerja yang efektif.
Kita sudah tahu betapa pentingnya kata kerja dalam karangan narasi, tapi kata kerja yang efektif juga dapat ditambahkan ke metode deskripsi. Penulis menggunakan kata kerja untuk membuat deskripsi lebih spesifik, akurat, dan menarik.
Perhatikan bagaimana Afifah Afra memilih kata kerja yang hidup. Membuat audiens seolah-olah menyaksikan langsung atraksi barongsai di pelataran kelenteng.
Di tanah lapang depan Kelenteng Tien Kok Sie, dekat pasar yang selalu becek saat musim hujan, tertumpah riuh beribu manusia yang campur baur. Suara perkusi khas Tionghoa: tambur, cai-cai, dan nong, tak henti-henti menyobek sepi. Iramanya diikuti gerak surai sepasang singa yang tak henti memecuti tubuhnya sendiri. Singa selatan melonjak-lonjak dengan memainkan kepalanya. Singa Utara dengan ‘empat kakinya’ lincah berderap-derap memajang aksi. Lebih dari separo aksi adalah  gerakan lay see, menelan amplop berisi uang yang ditempelkan pada daun selada air. Para penonton bersorak ramai ketika berkali-kali amplop itu dilahap dengan semangat oleh sepasang singa itu. (Da Conspiracao, AfifahAfra)
Sesuatu yang sama dapat dilihat pada kata kerja yang dicetak tebal di bawah ini. Dengan cemerlang, Ayu Utami mendeskripsikan latar tempat dalam novelnya, Lalita.
…,mereka bergerak menuju galeri yang terletak di Pasar Baru untuk melihat pameran foto yang dirancang oleh Lalita. Naik mobil Lalita. Bersama bunyi tik-tak tik-tak dari dasbor, perlahan Yuda melihat gedung itu menampakkan diri: Galeri Foto Jurnalistik Antar, terpacak di seberang kanal buatan zaman Belanda, dalam sebuah pemandangan dengan warna foto tahun 60-an. Warna-warna pudar pada kertas keruh. Ah, warna-warni digital telah tertinggal di dalam mal. Selamat datang kembali di bagian Jakarta yang kusam. Air kanal yang kelabu samar-samar memantulkan langit dan puncak galeri. Sebuah bangunan dari era kolonialisme akhir, bergaya art-deco, Lalita menerangkan. Perempuan indigo ini tampak selalu tahu segala macam. (Lalita, Ayu Utami)
3. Masukkan orang dan tindakan dalam deskripsi tempat.
Narasi dan deskripsi ibarat Hensel dan Gretel, pemburu vampir bersaudara. Mereka sering muncul bersama. Penulis sering mengungkapkan karakter atau atmosfir suatu tempat  dengan menceritakan peristiwa yang terjadi atau memasukkan orang-orang yang terlibat.
Hayuk, kita lihat bagaimana Dee mempertunjukkan (bukan menceritakan) atmosfir sebuah toko roti modern yang ramai.
Gerai Fairy Bread didominasi kaca. Lampu terang benderang menyoroti nampan-nampan kaca berisi roti yang terpajang di rak terbuka. Dapurnya yang transparan memperlihatkan para pegawai hilir mudik membuat roti dan kue. Orang-orang lalu memilih sendiri rotinya dengan membawa nampan plastik. Dan di depan kasir, tampak antrean panjang orang-orang yang maubayar.






By : Gustin Putra Flores

0 komentar:

Posting Komentar