Deskripsi
yang berhasil mensyaratkan cukup rerinci yang spesifik. Langkah yang
paling mudah untuk menyusun detail adalah dengan menggunakan lima indera
kita. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dansentuhan.
Berikut
ini saya ingin berbagi tiga langkah mudah untuk mendeskripsikan tempat.
Tapi kuncinya adalah banyak membaca dan latihan menulis.
1. Gunakan kata benda nama diri (proper nouns).
Disamping
memakai rerinci yang konkrit dan kata kiasan, dalam mengarang, kita
juga bisa memasukkan kata benda nama diri. Yakni nama-nama orang-orang
khusus, tempat dan benda-benda tertentu. Misalnya: Jokowi, Gunung
Pangrango, Intitut Pertanian Bogor, Jalan Pajajaran, Commuter Line, majalah National Geographic, blog Kompasiana.
Memasukkan
kata benda nama diri dimana audiens (pembaca) mengenali dengan mudah
dapat membuat apa yang kamu deskripsikan lebih familiar untuk mereka.
Perhatikan bagaimana J.K. Rowling dalam novel terbarunya “The Casual
Vacancy” mendeskripsikan kota Pagford.
…Sebuah kota kecil yang indah tempat mereka tinggal hampir setengah usia perkawinan mereka. Mereka melewati Church Row,
jalan menanjak tempat rumah-rumah paling mahal di kota itu berada.
Rumah-rumah besar yang berdiri dengan segala kemegahan dan kekokohan zaman Victoria. Berbelok di tikungan dekat gereja bergaya Gotik tiruan, tempat dia pernah menyaksikan putri kembarnya menampilkan drama Joseph and The Amazing Technicolor Dreamcoat.
Melintasi Alun-Alun yang memperlihatkan pemandangan reruntuhan biara
tua yang mendominasi cakrawala kota. Reruntuhan itu terletak tinggi di
bukit, seakan menyatu dengan langit jingga. (The Casual Vacancy, J.K. Rowling)
Dan kita lihat bagaimana Dee memperlihatkan kata benda nama diri yang sangat familiar dengan di sini.
Kami tinggal di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung kecil bernama Batu Luhur. Meski sudah ditawari sebuah rumah dosen di dekat kampus IPB tempatnya mengajar, Ayah tetap memilih tetap tinggal di rumah lama kami, dimana ia masih bias bersepeda ke Batu Luhur. Di kampung itu kami diperlakukan bak raja. (Supernova 4: Partikel, Dee)
2. Gunakan kata kerja yang efektif.
Kita
sudah tahu betapa pentingnya kata kerja dalam karangan narasi, tapi
kata kerja yang efektif juga dapat ditambahkan ke metode deskripsi.
Penulis menggunakan kata kerja untuk membuat deskripsi lebih spesifik,
akurat, dan menarik.
Perhatikan bagaimana Afifah Afra memilih kata kerja yang hidup. Membuat audiens seolah-olah menyaksikan langsung atraksi barongsai di pelataran kelenteng.
Di tanah lapang depan Kelenteng Tien Kok Sie, dekat pasar yang selalu becek saat musim hujan, tertumpah riuh beribu manusia yang campur baur. Suara perkusi khas Tionghoa: tambur, cai-cai, dan nong, tak henti-henti menyobek sepi. Iramanya diikuti gerak surai sepasang singa yang tak henti memecuti tubuhnya sendiri. Singa selatan melonjak-lonjak dengan memainkan kepalanya. Singa Utara dengan ‘empat kakinya’ lincah berderap-derap memajang aksi. Lebih dari separo aksi adalah gerakan lay see, menelan amplop berisi uang yang ditempelkan pada daun selada air. Para penonton bersorak ramai ketika berkali-kali amplop itu dilahap dengan semangat oleh sepasang singa itu. (Da Conspiracao, AfifahAfra)
Sesuatu
yang sama dapat dilihat pada kata kerja yang dicetak tebal di bawah
ini. Dengan cemerlang, Ayu Utami mendeskripsikan latar tempat dalam
novelnya, Lalita.
…,mereka bergerak menuju
galeri yang terletak di Pasar Baru untuk melihat pameran foto yang
dirancang oleh Lalita. Naik mobil Lalita. Bersama bunyi tik-tak tik-tak
dari dasbor, perlahan Yuda melihat gedung itu menampakkan diri: Galeri Foto Jurnalistik Antar, terpacak
di seberang kanal buatan zaman Belanda, dalam sebuah pemandangan dengan
warna foto tahun 60-an. Warna-warna pudar pada kertas keruh. Ah,
warna-warni digital telah tertinggal di dalam mal. Selamat datang kembali di bagian Jakarta yang kusam. Air kanal yang kelabu samar-samar memantulkan langit
dan puncak galeri. Sebuah bangunan dari era kolonialisme akhir, bergaya
art-deco, Lalita menerangkan. Perempuan indigo ini tampak selalu tahu
segala macam. (Lalita, Ayu Utami)
Narasi
dan deskripsi ibarat Hensel dan Gretel, pemburu vampir bersaudara.
Mereka sering muncul bersama. Penulis sering mengungkapkan karakter atau
atmosfir suatu tempat dengan menceritakan peristiwa yang terjadi atau
memasukkan orang-orang yang terlibat.
Hayuk, kita lihat bagaimana Dee mempertunjukkan (bukan menceritakan) atmosfir sebuah toko roti modern yang ramai.
Gerai
Fairy Bread didominasi kaca. Lampu terang benderang menyoroti
nampan-nampan kaca berisi roti yang terpajang di rak terbuka. Dapurnya
yang transparan memperlihatkan para pegawai hilir mudik membuat roti dan kue. Orang-orang lalu memilih sendiri rotinya dengan membawa nampan plastik. Dan di depan kasir, tampak antrean panjang orang-orang yang maubayar.
By : Gustin Putra Flores
By : Gustin Putra Flores
0 komentar:
Posting Komentar